Media Sosial atau Medan Perang
Seiring perkembangan media sosial kita juga semakin familier dan nyaman dalam berkomunikasi dan berekspresi, bahkan hingga lupa kepantasan kata-kata dan unggahan yang kita kirim. Dunia maya dapat kita pandang sebagai kehidupan kita di media yang berbeda dan sikap serta perilaku kita menceriminkan perilaku kita di dunia nyata. Topik-topik pembicaraan yang beragam seharusnya kita diskusikan dengan sopan sama seperti kita berbicara di dunia nyata, unggahan gambar atau video yang kita unggah juga harus dipertimbangkan kepantasan dan efeknya terhadap orang yang melihatnya.
Platform media sosial seperti Tiktok, Instagram, X dan Snapchat memiliki pengaruh dan peran penting bagi persebaran informasi modern dan komunikasi di Indonesia, maka dari itu pentingnya untuk kita memperhatikan etika kita dalam bermedia sosial.
1. Cyberbullying (perundungan siber)
perundungan melalui kata-kata atau unggahan yang menyinggung pihak lain. Kata-kata yang digunakan cenderung vulgar dan bertujuan untuk mengucilkan seorang individual atau kelompok tertentu. Cyberbullying sering dilakukan dengan tidak sengaja dengan alasan bercanda/membuat lelucon. Kurangnya kesadaran dan kemampuan untuk memedakan lelucon dan ejekan menandakan keperluan Indonesia untuk meningkatkan literasi digital penduduknya. Perundungan ini dapat mempengaruhi pemikiran dan kesehatan mental pembaca/korban serta mengancam kesehatan kehidupan sosialnya. Saya sarankan bagi korban untuk mencari bantuan dari orangtua ataupun orang dewasa yang terpercaya dan jika perlu bantuan dari ahli/dokter Psikologi. Kita harus mencegah terjadinya perudungan lebih lanjut dengan mengingatkan orang-orang disekitar kita untuk lebih mempertimbangkan dampak perkataan atau unggahanya terhadap orang lain,juga meningkatkan kemampuan literasi digital kita dengan membangun kebiasaan research dan membaca berita rutin. Kita juga dapat bertindak untuk membangun pertemanan yang lebih positif dengan memberi komentar positif dan saling membantu. Perundungan juga dapat disebabkan karena lingkungan keluarga atau pertemanan pelaku yang kurang baik maka penting untuk kita sadari dampak lingkungan yang kita tempati terhadap hidup kita, juga menyaring keuntungan dan kerugian kita dalam setiap hubungan.
2. Penyebaran Hoaks dan Penggunaan kata-kata Provokatif
Kita harus dengan jelas membedakan opini dan fakta dalam menerima dan memberi informasi. Dalam mencari dan mebagikan berita sebaiknya kita pertama mencarinya dari sumber terpercaya dan membagikanya dengan sikap objektif dan tidak mengartikan atau mengganti kata-kata yang digunakan. Ketika kita memberi cerita dengan kata-kata yang merujuk pada opininya sebaiknya kita tidak menyikapinya secara personal atau terlalu tersinggung karena dapat menimbulkan konflik hyang tidak diperlukan. Penggunaan kata saat berkomentar juga sangat harus diperhatikan, selain menjaga emosi saat menerima komentar kitapun juga harus menjaga emosi kita saat memberi komentar, ingat bahwa opini semua orang dapat berbeda dan tidak ada alasan untuk menggunakan kata-kata yag tidak sopan untuk menyuarakan suatu opini. Apa yang kita ujarkan dan unggah dapat dilacak dan menjadi jejak digital kita, kita dapat dipandang sebagai orang yang bruuk dan agresif atau hal negatif lainya karena unggahan atau komentar yang kita post 5 tahun lalu. Jejak tersebut dapat mempengaruhi peluang kita dalam memulai pekerjaan ataupun sekolah, seringkali pada zaman sekarang sekolah dan perusahaan ternama melakukan background check digital (pengecekan latar belakang digital) dan melakukan penyaringan pekerja baru.

Comments
Post a Comment